Thursday, March 10, 2016

Pesona dari Air Terjun Alahan di Kampar


Air Terjun Alahan merupakan salah satu obyek wisata di tepi Sungai Kampar yang banyak memiliki air terjun. Keadaan Sungai Kampar sangat indah ini bisa dinikmati dan diarungi menggunakan perahu karet. 

Lokasi Air Terjun Alahan Terletak di hulu sungai Kampar Kecamatan XIII Koto Kampar.Keindahan tempat ini ditunjang oleh keberadaan flora-flora khas yang tumbuh di kawasan ini.

Daya tarik wisata ini adalah sebuah keindahan serta kesegaran udaranya yang mengundang wisatawan domestik maupun manca negara terutama bagi wisatawan yang memiliki jiwa petualangan sejati. 



Objek wisata air terjun memang selalu memberikan penawaran keindahan alamnya. Keindahan untuk dinikmati dan udaranya yang sangat segar Air Terjun Alahan di Kota Kampar adalah salah satu tempatnya. 

Daya tarik obyek wisata ini ialah keindahan serta kesegaran udara yang mengundang wisatawan, apalagi bagi wisatawan yang mempunyai jiwa petualangan dalam mengagumi keberadaan alam. 

Tidak hanya itu, kekayaan fauna juga terdapat di obyek wisata dengan memiliki keterkaitan dengan habitat ini,keindahan yang ditunjang oleh keberadaan flora flora khas yang tumbuh di kawasan ini, serta lanskap kawasan yang masih alami dilokasi obyek wisata ini menjadi daya tarik yang sangat kuat.

Pemerintah akan Serius Kelola Air Terjun 86


Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Indragiri Hilir akan serius untuk mengelola Air Terjun 86 yang berada di Desa Keritang Hulu, Kecamatan Kemuning untuk menjadi objek wisata, air terjun ini sangat indah dan sangat-sangat asri.



Kepala Disporbudpar Kabupaten Inhil, Mukhtar T mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinas kepada satuan kerja terkait agar air terjun ini menjadi objek wisata yang kedepannya akan sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan. "Kita melakukan ekspedisi ini bersama beberapa satker-satker terkait dan juga pihak konsultan," terangnya, Sabtu (5/10).

Untuk mencapai lokasi Air Terjun 86  ini harus membutuhkan perjalanan kurang lebih 1 jam dari jalan Negara dengan jarak kurang lebih 11 Kilometer  menggunakan sepeda motor dengan kondisi jalan yang cukup parah. Setelah itu tim ekspedisi harus berjalan kaki sekitar 1 Kilometer untuk meneruskan perjalanan demi mencapai air terjun 86 ini.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit untuk mencapai keindahan alamat Inhil ini tim ekspedisi juga harus kembali mengeluarkan tenaga yang cukup besar, karena untuk masuk kelokasi Air Terjun 86 tim ekspedisi harus menuruni bukit yang cukup terjal dan disertai rintik-rintik hujan saat melakukan ekspedisi tersebut.

Untuk turun ke lokasi menyaksikan keindahan alam tersebut, tim ekspedisi harus turun dengan menggunakan akar-akar dan ranting-ranting pepohonan sebagai pegangannya. "Yang harus kita perhatikan terlebih dahulu adalah jalan, kalau jalan untuk menuju kelokasi ini sudah baik atau bagus daripada yang sekarang saya rasa Air Terjun 86," papar Mukhtar T

"Kalau saja jalan ini disertu saja oleh dinas terkait pasti akan ramai pengunjung, sedangkan dengan konsisi seperti ini saja ramai pengunjung baik dari anak sekolah dan masyarakat pada hari liburnya," terangnya.

Setelah tiba dilokasi tersebut, tim ekspedisi sangat terlihat lega dan senang karena disajikan keindahan alam Inhil yang masih sangat-sangat asri. "Bisa kita lihat, ada dua buah air terjun di lokasi ini yang ketinggiannya mencapai kurang lebih 32 meter dan demit airnya yang lumayan besar, dan ini sangat-sangat indah" dercak kagum Kadispora kala itu.

Walaupun pada saat kemarau air terjun ini tidak pernah berhenti airnya sesuai keterangan Camat, Kades, dan warga. Air Terjun 86 ini juga pernah di kunjungi oleh wisatawan asing yang penasaran untuk menyaksikan keindahan alam di Inhil ini. "Kita mendapatkan Informasi bahwa Air Terjun 86 ini juga sudah pernah dikunjungi oleh wisatawan asing, kan sangat-sangat sayang jika air terjun ini tidak kita jaga," katanya.

Kadispora juga menyebutkan kalau dilokasi tersebut masih ada sekitar 100 Hektar hutan yang sampai saat ini masih terawat dengan baik. "Target awal kita bersama Bappeda Inhil adalah untuk mencoba membuat master plen Air Terjun 86 ini, studi kelayakannya. Setelah itu dibuat maka kita akan liat dan dipresentasikan apa yang menjadi kebutuhan utama," ujarnya.

Jika tahun ini dibuat master plan, maka tahun 2014 diminta dulu pembangunan jalan. Jika ini layak untuk dinaikan ke tingkat provinsi, maka akan dicoba untuk menaikan dan berharap provinsi mendukung, karena ini merupakan salah satu aset Provinsi Riau. "Kita juga tentunya akan berharap untuk mendapatkan bantuan APBN selama Master plan dan studi kelayakannya diterima," harapnya

Wednesday, March 9, 2016


Ngawi - Nama Air Terjun Pengantin ternyata bukan cuma jadi judul film horor yang diperankan Tamara Bleszynski yang sempat eksis 2009 lalu. Di Ngawi, Jatim sungguhan ada Air Terjun Pengantin, tapi tak ada sentuhan kisah horor.

Air Terjun Pengantin Ngrambe namanya, letaknya tersembunyi di balik Perkebunan Teh Jamus yang jadi primadona wisata Kabupaten Ngawi. Kesegaran air terjun ini masih belum banyak terekspos wisatawan. Di samping itu, kalau Anda ingin menyentuhnya butuh waktu 3 jam dari jantung Ngawi.

Dari situs Pariwisata Ngawi yang dikunjungi detikTravel, Kamis, (6/3/2014) ada sepasang air terjun setinggi 12 meter yang mangalir deras ke tanah. Dari situlah nama Air Terjun Pengantin melekat sampai sekarang. Sebelumnya objek wisata ini terkenal dengan nama Air Terjun Jumog.

Biasanya objek wisata air terjun tak jauh-jauh dari kisah mitos dan legenda, sama halnya dengan air terjun ini. Konon sepasang kekasih yang datang ke sana berdua, hubungan mereka malah makin langgeng sampai naik pelaminan. Nah, kalau sepasang suami istri yang menyentuh air terjun ini, hubungan mereka bisa makin awet.

Wisatawan wajib membayar tiket Rp 2.500 per orang sebelum menyaksikan derasnya Air Terjun Pengantin Ngrambe yang tak kalah menawan dengan air terjun lain. Murah bukan? Gemercik air yang turun deras tiada henti mendamaikan diri, apalagi saat penat menyerang.

Anda terlebih dulu melewati jalan tanah yang menanjak sebelum bertemu 'sang pengantin' itu. Saat musim hujan area wisata ini tentu menjadi becek penuh lumpur dan tak nyaman dikunjungi. Sebaiknya Anda datang saat musim kemarau tiba agar puas menikmati air terjun dari segala arah.

Nah, selain kesegaran Air Terjun pengantin Ngrambe, wisatawan bisa mampir ke area hijaunya Perkebunan Teh Jamus dan Gua Jepang, ikon wisata Ngawi. Datanglah ke Dusun Besek, Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, Ngawi kalau ingin menikmati suasana segar ala Air Terjun Pengantin Ngrambe.


Melihat Pelangi di Curug Cimahi, Bandung

Melihat air terjun di pagi, siang, atau sore hari itu sudah biasa. Melihat pelangi setelah hujan gerimis pun juga sudah biasa. Bagaimana kalau melihat pelangi di air terjun saat malam hari? Pernah terpikir bisa melihat hal seperti itu sebelumnya?
Anda bisa melihat keindahan pelangi di air terjun saat malam hari hanya di Curug Cimahi, Lembang, Bandung.  Panorama wilayah sekitar Lembang menjadi lebih memukau saat senja menjelang hingga malam hari berkat Curug Cimahi. Air terjun yang memiliki ketinggian 71 meter di Kawasan Perhutani Bandung Utara, secara administrasi masih masuk wilayah Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua ini sudah dimodifikasi menjadi lebih menarik.
Kecantikannya menjadi tidak hanya bisa dilihat ketika siang hari saja, saat malam hari Curug Cimahi menjadi lebih mempesona dibandingkan saat siang hari. Hal itu terjadi berkat lampu instalasi yang secara khusus dipasang di dinding bagian belakang air terjun.


Lampu-lampu yang sudah terpasang tersebut didesain sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan warna-warna pelangi. Anda pasti sudah bisa membayangkan kemunculan warna merah, jingga, kuning, biru, hijau, nila, dan ungu bukan? Lampu-lampu berwarna itulah yang menyebabkan air terjun menjadi ikut berwarna. Ketika tertimpa cahaya, sontak air terjun tersebut menjadi lebih eksotik daripada sebelumnya.
Air terjun yang  berada di areal tanah seluas 25,75 hektar itu menjadikan kawasan Perhutani Bandung Utara jauh dari kesan horor. Keindahan flora dan faunanya dapat Anda nikmati sepanjang jalan menuju Curug Cimahi. Anda bisa mendengar kicauan burung, selintas Anda pun bisa menyaksikan beberapa ekor monyet ekor panjang bergelantungan di dahan-dahan pohon.
Berkat instalasi lampu berwarna tersebut Curug Cimahi jadi memiliki sebutan baru, yakni The Rainbow Waterfalls. Anda bisa menikmatinya saat sore menjelang malam, kurang lebih letaknya 100 meter setelah pos masuk. Panorama eksotis tersebut tidak akan dipertunjukkan sepanjang malam, operasionalnya mulai Pukul 17.00 WIB sampai Pukul 21.00 WIB. Objek wisata kawasan hutan Curug Cimahi tersebut dibuka dari Pukul 08.00 WIB. Untuk bisa menyaksikannya, Anda akan dikenai biaya tiket sebesar Rp 15.000,- yang sudah termasuk tiket masuk.
Ada beberapa jalan alternatif yang bisa Anda pilih untuk mencapai curug ini. Kebanyakan wisatawan menggunakan jalur Cimahi melalui Cihanjuang, Parangpong, dan jalur Lembang. Apabila Anda menggunakan kendaraan pribadi, silahkan susuri Jalur Cihideung menuju Cisarua. Pintu masuk curug terletak tepat di sebelah terminal angkot Cisarua. Berada di sisi Jalan Kolonel Masturi.
Objek wisata Bandung lain yang tak kalah indah, ada padepokan ulat sutra, Saung Angklung Udjo, Kampung Sukamulya, atau Situ Cileunca, Bandung.
Lokasi Curug Cimahi, Lembang Bandung
Informasi yang tertera dalam artikel di atas sesuai dengan kondisi pada 29 Desember 2014.
Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian. Namun demikian, pemeliharaan website ini tidaklah murah. Apabila Anda memesan hotel, silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.
Harga yang tertera dalam artikel ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Berburu Pelangi ke Air Terjun Pelangi

Air Terjun Pelangi yang berada di Desa Tanjung Timur, Deliserdang, Sumatera Utara, mendapat namanya dari hadirnya pelangi yang menambah keindahan air terjun itu.
Matahari terbit tepat di depan pantulan air terjun yang menyapu tebing tinggi sekitar 15 meter. Warna merah berpadu kuning, akan terlihat jelas dari deru air yang deras. Namun, keindahan itu sulit sekali ditemukan wisatawan yang datang kebanyakan pagi telah terang atau bahkan kesiangan.
"Kalau datangnya sebelum pukul 7, pasti puas lihat warna pantulan sunset seperti pelangi. Kalau mau datang lagi pagi-pagi," kata Susinah, penjaga Air Terjun yang juga berjualan di depan pintu masuk.
Ia menuturkan yang membuat air terjun ini berbeda dengan air terjun lainnya adalah tepat berada di timur, menghadap matahari terbit.
"Arus airnya juga berubah-ubah, kalau sedang deras, ia seperti tirai karena turun mengaliri sepanjang tebing. Tapi kalau tidak deras airnya hanya turun di tebing utama, yang juga tentu tidak menghilangkan keasyikan mandi di sini," katanya.
Menurutnya, wisatawan juga dimudahkan dengan akses yang sudah dibuatkan anak tangga dari semen untuk turun ke bawah.


"Tidak sulit untuk mencapai air terjun, ada tangga datar dan tangga turunan yang tidak curam, anak-anak pun bisa di bawa ke sini," tambahnya.
Keindahan Air Terjun Pelangi memang berbeda, selain keindahan pantulan sunset, tebing yang tinggi berbentuk batu batu kapal juga tak kalah menarik perhatian.
Kemudian tebing yang bertingkat juga membuat turun air terjun memiliki beberapa tingkat.
Untuk mengejar pemandangan sunset di pantulan air terjun, sangat sulit bagi wisatawan yang dari Medan apalagi luar kota.
Pasalnya, dari kota Medan untuk mencapai lokasi ini bisa menghabiskan waktu 3 jam. Sedangkan untuk penginapan belum ada, sehingga wisatawan tidak bisa bermalam untuk menunggu pagi.
Wisata pemandian Air Terjun Pelangi juga dekat dari Danau Linting.
Jika wisatasan datang dari kawasan kota Medan, dari Danau Linting, anda tinggal lurus saja mengikuti jalan utama, terus saja sampai anda menemukan simpang 3, pada persimpangan tersebut silahkan belok kanan, lurus kembali sampai menemui simpang dua, lalu belok kanan kembali.
Air Terjun Pelangi ini diresmikan oleh dinas pariwisata Deli Serdang pada bulan oktober 2012. Akses menuju ke sana sudah bagus, alias jalan sudah beraspal kecuali di simpang pintu masuk, karena air terjun berada di sekitar kebun penduduk.
Untuk masuk ke sana juga tidak dipungut biaya, alias gratis. Wisatawan hanya membayar biaya parkir Rp5 ribu.
Di sana juga ada pedagang makanan ringan seperti popmi dan aneka jajanan ringan. Ada juga pondok-pondok kecil untuk keluarga makan bekal atau sekadar istirahat.
Tapi jangan berharap pada fasilitas kamar mandi yang terbatas di sana, kamar mandi di sana sudah rusak dan tidak bisa digunakan, sehingga dipenuhi sampah dan bau.

Air Terjun Dua Warna - Deli Serdang


Air Terjun Dua Warna atau juga dikenal dengan nama Air Terjun Telaga Bitu Sibolangit memiliki ketinggian terjunan air sekitar 75 meter dan berada di ketinggain 1475 m dpl.  Air terjun ini terletak di hulu Sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan letusan gunung Sibayak ratusan tahun silam. 

Air terjun yang satu berwarna biru indah dan air yg sangat dingin, dengan tebing-tebing berlumut hijau di sekitarnya. Satunya lagi berwarna putih bening dan terasa hangat. Kedua air terjun ini terpisah dekat oleh beberapa air terjun kecil penghias tebing.

Warna birudiperoleh informasi air terjun telaga dua warna atau telaga biru kemungkinan disebabkan air yang terjun dari ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan tanah awalnya berwarna putih namun setelah jatuh ke telaga berubah menjadi biru. Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab mengapa air terjun itu berubah menjadi biru. Sedangkan orang yang dianggap pertama sekali menemukan keajaibannya itu juga sampai sekarang belum diketahui. Namun air terjun ini sejak dulu sudah sering dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa pencinta alam yang camping di sekitar Bumi Perkemahan Sibolangit

 Tempat wisata ini memang terkesan unik. Dari namanya saja orang-orang menyebutnya Air Terjun Dua Warna sebab air terjun yang turun dari sungai atas akan tertampung ke sebuah danau kecil dan disinilah air tersebut memiliki dua warna yaitu biru muda dan putih keabu-abuan. Setelah ditelusuri ternyata air terjun ini bersumber dari letusan Gunung Sibayak yang membentuk aliran sungai yang dialiri belerang (sulfur) yang kemudian bersatu dengan resapan air hutan sehingga menjadi berair dingin yang berwarna biru. Uniknya lagi, air terjun tersebut tidak mengeluarkan bau belerang namun jangan pernah meminum air tersebut. Selain itu, keberadaan air terjun ini juga tersembunyi di dalam hutan hujan tropis di tengah hutan Sibayak I dan Sibayak II dengan ketinggian 1475 meter dari permukaan laut. So..bagi kalian yang sangat mencintai keindahan alam Indonesia, tunggu apa lagi..saatnya mengunjungi Desa Durin Sirugun di kawasan Sibolangit untuk menikmati keindahan Air Terjun Dua Warna ini. (YS) 


Setelah melintasi jalan di hutan seberang, kami menemukan tempat yang bersahabat untuk kembali menyeberang ke sisi semula. Suara air terjun mulai terdengar. Kami melipir pada jalan setapak di kaki tebing setinggi 45 meter yang berlumut tebal. Setelah melewati barisan batu besar di sisi kiri sungai, kami benar-benar dibuat terpesona menatap sepenggal keajaiban di dalam belantara yang menguras fisik dan tenaga itu.


Jenuh, penat dan stres dengan aktifitas pekerjaan sehari-hari? Inilah saatnya Anda perlu menyegarkan diri atau refreshing dengan kembali ke hutan, menghirup udara segar, mendengar suara air sungai dan memanjakan mata dengan warna-warna alam. Air Terjun Dua Warna, bisa menjadi pilihan Anda untuk refreshing selama beberapa hari libur ini. Letaknya pun tidak jauh dari Kota Medan, hanya 1 jam perjalanan saja yakni di Bumi Perkemahan Sibolangit, Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kab Deli Serdang. Dari lokasi ini kita akan memulai perjalanan masuk hutan atau hiking selama 3 jam untuk sampai di lokasi air terjun. Tempat wisata ini memang terkesan unik. Dari namanya saja orang-orang menyebutnya Air Terjun Dua Warna sebab air terjun yang turun dari sungai atas akan tertampung ke sebuah danau kecil dan disinilah air tersebut memiliki dua warna yaitu biru muda dan putih keabu-abuan. Setelah ditelusuri ternyata air terjun ini bersumber dari letusan Gunung Sibayak yang membentuk aliran sungai yang dialiri belerang (sulfur) yang kemudian bersatu dengan resapan air hutan sehingga menjadi berair dingin yang berwarna biru. Uniknya lagi, air terjun tersebut tidak mengeluarkan bau belerang namun jangan pernah meminum air tersebut. Selain itu, keberadaan air terjun ini juga tersembunyi di dalam hutan hujan tropis di tengah hutan Sibayak I dan Sibayak II dengan ketinggian 1475 meter dari permukaan laut. Pada kawasan ini terdapat 4 air terjun, yakni 2 air terjun utama dan 2 air terjun kecil. Tinggi air terjun utama sekitar 50 meter dan air terjun kedua sekitar 20 meter. Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan sebelum menuju air terjun tersebut kita harus mempersiapkan peralatan hiking seperti sepatu atau sandal gunung, tas ransel untuk membawa perlengkapan baju pengganti, handuk, air minum, bekal makan siang, makanan ringan dan kamera. Ada baiknya kita berangkat dari Medan pada subuh hari sehingga ketika sampai di lokasi air terjun tersebut tidak kesiangan dan masih sempat berenang sambil merasakan dinginnya air terjun dua warna tersebut.

Sesampainya di lokasi kita akan melihat ada 3 buah air terjun, satu di antaranya merupakan air terjun Telaga Biru. Kita dapat berenang dan mandi di Telaga Biru tepat di bawah air terjun itu.
Sambil menyaksikan pesona alam itu, pengunjung dapat menyantap makanan yang sudah disediakan saat hendak berkunjung. Kita dapat berenang di telaga itu sambil menikmati segarnya air dan sejuknya udara di sekitar telaga itu.
Namun pengunjung untuk sementara tidak bisa berlama-lama, disebabkan oleh faktor cuaca karena dikhawatirkan hujan. Jika hujan turun, pengunjung akan kewalahan karena tidak adanya tempat untuk berteduh dan jalan yang licin. Di samping itu jika hari mulai gelap, dikhawatirkan pengunjung tidak dapat lagi melihat jalur lintasan untuk kembali pulang alias tersesat.

Sementara itu Camat Sibolangit Drs Neken Ketaren saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu yang lalu menyebutkan pemerintah akan berupaya untuk membangun obyek wisata yang ada di kecamatan Sibolangit termasuk air terjun dua warna, katanya. (BSK/m)

Di ujung Sinembah 1, sebuah lembah buntu dalam bentuk pelataran luas hampir sebesar lapangan sepak bola, selama ini tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi di sisi kanan dan kiri. Di sebelah kanan, air terjun berwarna bening setinggi 10 meter meluncur turun dari salah satu pelataran di atas dinding. Airnya terus mengalir, bergabung dengan aliran dari air terjun lain yang terletak di sebelah kiri.

Air terjun kedua tingginya mencapai 40 meter. Debetnya tidak luarbiasa, tapi kandungan airnya yang mengandung belerang membuat airnya berwarna biru keputih-putihan. Kandungan belerang pada air mengakibatkan lapisan lumut pada batu-batu di dasar kolam jatuhan air itu berwarna putih kebiru-biruan. Walhasil, warna kolam berwarna biru terang. 




Jadi, inilah rupanya yang mereka maksudkan sebagai dua warna itu. Dua air terjun dengan warna yang berbeda, yang satu biasa, dan yang satu lagi berwarna biru cerah. Terbetik keinginan untuk mandi bugil di hutan seperti acara para nudis, namun dinginnya air memaksa kami untuk mengurungkan niat itu. Lagipun, takut kualat. Jangan-jangan hantu penjaganya darah tinggi dan suka marah.


Aksesbilitas

Akses menuju kesana cukup sulit dan tidak bisa ditempuh melalui sungai. Hal ini dikarenakan banyak batu-batu berlumut tebal terlalu besar dan menutupi jalur di pinggiran sungai tersebut yang cukup menyulitkan dijelajahi.   Satu-satunya jalan adalah harus mendaki ke atas punggungan bukit dan berjalan melintas hutan di lereng Gunung Sibayak selama 3 jam sebelum kembali turun ke lembah yang dibelah oleh Sungai Sinembah


Perjalanan diawali dari  areal perkemahan pramuka di Sibolangit, yang berjarak sekitar 57 km  dan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan berkendara dari kota Medan.  Selanjutnya memasuki jalan setapak penuh lumpur, mengikuti aliran air dalam pipa. Selepas jalur pipa, jalan setapak mulai menanjak ke atas dengan kemiringan sedang namun panjang. Track ini membawa ke salah satu bagian punggungan. Selebihnya adalah perjalanan naik turun punggungan menerobos kerapatan hutan. 



Selang 25 menit kemudian, turun ke bawah salah satu sungai, menyeberanginya dan kembali naik ke punggungan di seberang punggungan pertama. Sekitar 20 menit kemudian tiba di persimpangan bibir punggungan. Di sini terdapat plang di atas salah satu pohon bertuliskan  “Air Terjun 2 Warna, 20 Menit” dengan tanda anak panah menunjuk ke bawah lembah tempat suara air Sungai Sinembah 1 berasal. Sementara jalur yang lurus mengikuti punggungan itu, mengarah ke Jalur 54 (salah satu jalur pendakian ke puncak Sibayak). 

Monday, March 7, 2016

Pesona Alam Langkat, Air Terjun Tongkat & Kolam Abadi

Liburan asyik di sekitar Medan bisa traveler dapatkan ketika mengunjungi Air Terjun Tongkat dan Kolam Abadi di Binjai. Keunikan air terjun dan kejernihan air di Kolam Abadi siap menghipnosis pandangan Anda.

Kolam Abadi dan Air Terjun Tongkat belakangan ini sedang menjadi buah bibir perbincangan traveler di Kota Medan karena keindahan pemadangannya dan kejernihan airnya. Semua orang berbondong-bondong pergi ke Kolam Abadi dan Air Terjun Tongkat untuk menjawab rasa penasaran setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut maupun mendapat informasi dari internet yang sangat berkembang pesat.

Kolam Abadi dan Air Terjun Tongkat terletak di Desa Rumah Galuh, Kelurahan Namuukur, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat. Kurang lebih 28 km dari pusat kota Binjai dengan perjalanan dari Kota Medan sekitar 1 jam.

Letak lokasi wisata yang tidak begitu jauh dari tengah kota Medan tentunya memudahkan para wisatawan yang akan datang berkunjung ke lokasi tempat wisata. Perjalanan kami ditemani pemandu dari Pelaruga dengan biaya Rp 40.000/orang.



Kami ditemani oleh 2 orang pemandu yang akan membawa kami ke Air Terjun Tongkat Teroh-Teroh dengan melintasi hutan sekitar 1-2 jam perjalanan sedikit mendaki dan menurun. Pemandu yang menemani sangat ramah dan infomatif dalam menemani perjalanan kami.


Di dalam perjalanan terdapat beberapa pos atau bisa juga disebut warung yang menjadi tempat untuk beristirahat yang menyediakan makanan ringan dan minuman. Jadi tak perlu khawatir akan rasa haus dan perut lapar selama di perjalanan.


Jalan setapak demi setapak kurang lebih 2 jam dengan rasa yang sangat lelah akhirnya terbayar dengan pemandangan yang sangat indah dari Air Terjun Tongkat. Setelah melihat secara langsung air terjun tersebut, akhirnya dapat dipahami asal muasal disebut Air Terjun Tongkat. Itu disebabkan karena ada sebatang kayu dari pohon yang sangat besar dan tinggi menyerupai tongkat raksaksa dengan posisi seperti bersandar di aliran air terjun itu. 


Setelah puas menikmati air terjun selanjutnya adalah menuju Kolam Abadi yang di awal perjalanan terlewati karena pemandu lebih menyarankan terlebih dulu menuju ke Air Terjun Tongkat. Perjalanan pulang dengan melewati rute balik akhirnya membawa kami ke Kolam Abadi yang terkenal dengan kejernihannya dari dasar kolam yang berwarna kebiru-biruan.   

Kolam Abadi tak kalah ramai pengunjungnya karena jarak tempuh yang relatif lebih mudah dari pada ke air terjun. Bagi yang memiliki smartphone canggih maupun kamera bawah air bisa berfoto-foto ria di bawah air yang sangat jernih.

Waktu berkunjung yang tepat adalah pagi hari dan hindari hari Minggu atau libur karena akan ramai sekali mengingat masyarakat di Kota Medan sedang berbondong-bondong datang. Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi yang akan berkunjung dan turut memajukan pariwisata di Sumatra Utara serta jangan lupa untuk ikut menjaga kelestarian alam kita bersama.