Sunday, March 13, 2016

Perjalanan Menuju Keindahan Yang Tersembunyi, Air Terjun Lumpo

Jauh di dalam belantara yang rimbun pada alam hutan Pesisir Selatan tersembunyi keindahan yang jarang diceritakan oleh orang. Jaraknya yang begitu jauh dan medan yang terhitung sulit untuk dilewati orang menjadikannya terjaga sedemikian rupa. Kondisi yang demikian inilah yang menjadikan keindahannya seakan tak tersentuh, tercemar, ataupun terusakkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Keasriannya masihlah tampak begitu alami. Air Terjun Lumpo, salah satu pesona Pesisir Selatan yang rupanya ada di tengah-tengah belantara Taman Nasional Kerinci Seblat ini, menjadikan orang yang hendak menyambanginya haruslah benar-benar yang bernyali dan sanggup berpetualang menembus belantara untuk melihat keindahan yang tersembunyi darinya.
Lumpo adalah nama suatu daerah yang terletak pada Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan. Dibandingkan dengan tiga daerah lainnya pada satu kecamatan, daerah Lumpo ini termasuk daerah yang berbeda sendiri. Hanya Lumpolah satu-satu daerah yang tidak mempunyai garis pantai, justru kontur yang dimilikinya berupa dataran tinggi dan pegunungan. Bahkan daerah ini rupanya juga termasuk dalam area konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat yang terbentang luas pada tiga provinsi (Sumatera Barat, Jambi, dan Riau). Pada daerah dengan kontur pegunungan seperti inilah, pesona alam banyak yang tersebar di dalamnya. Salah satunya adalah Air Terjun Lumpo.
Dari media massa yang saya rujuk, rupanya belum banyak yang membahas tentang air terjun yang satu ini. Hanya ada beberapa artikel yang tersebar menggambarkan tentang pesona alam ini, itu pun banyak yang tulisannya berisikan hal yang persis, hanya disalin dari sumber yang sama. Hal ini membuat saya menyimpulkan secara sekilas bahwa Air Terjun Lumpo ini sepertinya belumlah banyak orang yang mengunjunginya. Barulah segelintir pengunjung saja yang pernah ke sana dan menceritakan pengalamannya pada media massa yang lebih luas. Hal seperti ini yang membuat saya dan teman saya semakin penasaran dengan rupa dari air terjun ini. Apalagi dari sekilas membaca artikel tersebut dan foto yang menggambarkan air terjun ini sepertinya air terjun ini berbeda dari lazimnya.
P1150796
objek batu biduak, limau gadang, lumpo
Tidak mudah mencapai air terjun yang satu ini berdasarkan informasi yang kami baca dari media massa. Karena letaknya yang memang berada di tengah belantara dan harus mendaki perbukitan yang melindunginya, maka dibutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama untuk dapat mencapai tujuan. Artikel yang kami rujuk menyebutkan bahwa waktu perjalanan dibutuhkan sekitar 3 jam untuk sampai ke sana dengan medan yang berlika-liku. Semula sempat kami baca informasi lain yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 1 jam perjalanan saja, namun belakangan kami ketahui rupanya informasi tersebut rupanya untuk objek yang lain, yaitu jeram sungai Batu Biduak, yang memang lebih dekat ketimbang Air Terjun Lumpo yang lebih jauh.
Bersama teman saya, Pak Amin, dengan perbekalan yang sudah dipersiapkan secukupnya, kami pun memulai perjalanan untuk dapat mengetahui keindahan tersembunyi yang satu ini. Teman saya yang satu ini merupakan sosok yang begitu antusias dengan petualangan alam. Pengalamannya dengan jelajah alam semacam pendakian gunung sudah berkali-kali ia ikuti. Berbeda dengan saya, untuk hal semacam ini saya masihlah sangat awam dan hal demikian yang membuat saya cemas dalam perjalanan ini, apakah saya sanggup menjalaninya atau tidak. Namun, dengan semangat dan panduan dari teman saya yang satu ini, membuat saya tidak melangkah mundur untuk perjalanan yang satu ini. Niat sudah dibulatkan dan perjalanan pun harus tetap dilakukan untuk dapat menyaksikan dengan mata sendiri Air Terjun Lumpo yang sangat membuat penasaran seperti apakah wujudnya.
Titik mula perjalanan kami dimulai dari tempat tinggal domisili kami di Painan. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Painan menuju Lumpo. Jalur Painan ke Lumpo merupakan jalur yang mudah dilewati, hanya ada satu jalur yang terus mengarah hingga ke daerah perbukitan. Sepanjang jalan belumlah padat pemukiman dan banyak terbentang lahan sawah pertanian. Jalur ini nantinya akan mencapai akhirnya pada daerah Limau Gadang yang menjadi ujung jalur dan di sinilah menjadi titik perhentian sementara untuk melanjutkan perjalanan. Dari sini, kendaraan sudah tidak bisa dilewati, perjalanan mau tak mau harus dilakukan dengan jalan kaki.
Agar tidak tersesat dalam perjalanan selanjutnya, diperlukan pengarah jalan yang sudah berpengalaman ke Air Terjun Lumpo. Karena pada daerah Limau Gadang inilah pemukiman terakhir yang ditemui, maka kami bertanya terlebih dahulu kepada penduduk lokal dan meminta pengarah jalan. Sempat agak lama untuk mendapatkan pengarah jalan yang bersedia memandu kami melewati jalur yang tingkat kesulitannya mulai sulit pada titik ini karena baru setibanya di sanalah kami mencari, banyak yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau belum pernah ke sana. Beruntung kemudian ada dua orang pemuda setempat, Anton dan Rio, yang bersedia menjadi pengarah jalan kami. Keduanya mengaku sudah berulang kali menuju ke tempat yang kami sebut itu.
Perjalanan selanjutnya dari titik Limau Gadang dimulai pada sekitar pukul 12.00 siang. Waktu yang kurang tepat sebenarnya untuk memulai, seharusnya lebih awal lagi agar dalam sehari perjalanan ini dapat selesai. Namun, dengan perbekalan dan pengarah jalan yang sudah ada, rasanya begitu sayang membatalkan perjalanan ini hanya karena keterlambatan ini. Berempat kami menyusuri jalanan setapak yang perlahan mulai mendaki. Tidak jauh dari titik mulai kami, ada objek Batu Biduak yang terkenal sebagai tempat pemandian dengan arus sungai yang deras dan masih alami. Perjalanan mulai terasa berat setelah menyeberangi sungai daerah Batu Biduak ini. Jalur yang ada terus mendaki ke atas dan hanyalah berupa bebatuan yang tersusun berantakan sebagai pijakan menuju ke atas dibatasi oleh serabutan tanaman liar dan batang pepohonan yang semakin merapat.
Pendakian dengan jalur semacam ini benar-benar menguras energi saya yang masih belum terbiasa dengan kondisi alam seperti ini. Sementara yang lain masih kuat berjalan terus, saya sempat beberapa kali meminta waktu untuk beristirahat mengatur nafas. Saat saya beristirahat, yang lain menyempatkan berhenti agar rombongan tidak terpencar terlampau jauh. Ini adalah hal yang penting selama penjelajahan hutan seperti ini agar jangan sampai ada yang tertinggal, terpisah, dan tidak lagi terlihat di hutan. Hutan dengan segala macam makhluk yang ada di dalamnya menyimpan berbagai macam bahaya pula yang patut diwaspadai bersama oleh satu rombongan yang lengkap dan terus beriringan.
Jalur yang terus mendaki juga menguji seberapa tahan mental para pendakinya agar bisa sampai pada tujuan. Pada beberapa momen, terasa benar ada keinginan untuk menyerah dan kembali tidak perlu melanjutkan lagi karena merasa sudah tidak sanggup. Inilah yang perlu dilawan dan diatur agar semangat mental pendakian terus ada dan saling menyemangati pada satu rombongan. Selain itu juga, kehati-hatian juga menjadi hal utama. Dengan jalur sempit, tepi tebing curam, dan bebatuan licin yang rentan membuat tergelincir, salah-salah mengambil langkah bisa jadi hal yang fatal. Saya sendiri sempat mengalami beberapa kali tergelincir pada medan yang licin dan beruntungnya masih bisa selamat tetap pada jalur yang tepat berkat bantuan dari teman serombongan juga.
Pendakian pada jalur yang menanjak ini rupanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bagi penduduk lokal seperti Anton dan Rio yang menjadi pengarah jalan kami, mereka hanya butuh waktu yang lebih singkat sekitar 1 jam hingga menuju atas bukit karena sudah terbiasa. Sedangkan, dengan kecepatan dan daya tahan kami yang baru kali ini mendaki jalur semacam ini, butuh sekitar dua kali alokasi waktu dari yang biasa mereka lewati. Setibanya di bagian atas bukit yang kami daki, jalur tidak lagi menanjak seekstrem jalur sebelumnya dan mulai mengitari bukit menuju daerah sebaliknya. Di sini, walaupun jalurnya tidak ekstrem, tantangan pada jalur ini adalah melewati jalur dengan tepian tebing yang curam dengan jalur setapak yang masih terbatas.
P1150810
panorama pemandangan dari bagian atas bukit
Bagian selanjutnya dari pendakian ini adalah jalur yang menurun menuju daerah lembah pada balik bukit. Saat kami sudah mencapai jalur ini, awan sudah terlihat mendung dan sempat ada gerimis yang menjadikan jalur cenderung becek dan semakin licin. Sebelumnya dari bagian atas bukit ini, pada sisi barat di area terbuka tampak dengan jelas pemandangan bawah bukit berupa pemukiman, sawah, dan juga laut dari kejauhan yang begitu memukau. Sedangkan pada arah sebelah timur, didapati dari kejauhan juga arus deras yang bertingkat-tingkat dari Air Terjun Lumpo sudah terlihat. Bunyi air menderu dari air terjun ini sudah terdengar. Ini menjadi penyemangat kami bahwa tidak lama lagi kami akan sampai.
Namun, tidak semudah itu rupanya jalur selanjutnya yang dilewati. Pada jalur yang menurun dengan kondisi yang seperti demikian tadi, menjadi tantangan selanjutnya. Sama halnya dengan pendakian yang menanjak, pada saat jalur turun ini juga perlu pijakan yang tepat agar tidak terperosok tergelincir. Kemiringan pada medan ini lebih curam dan jalurnya tidak lagi berbentuk jalan yang teratur, cenderung terjal. Kalau sebelumnya saya sempat tergelincir, pada jalur ini saya mengalami beberapa kali terperosok oleh kayu yang lapuk atau dedaunan yang membusuk sebagai pijakan yang salah dan kurang kuat. Harus diperhatikan benar ke mana kaki harus memijak dan bertumpu agar tidak terjadi apa yang saya alami.
Pada sekitar pukul 4 sorelah, akhirnya tempat yang kami tuju terlihat juga. Air Terjun Lumpo yang begitu deras turun mengalir menunjukkan keindahannya. Jalur menurun tadi merupakan bagian akhir dari pendakian ini dan berlanjut dengan penelusuran sungai sekitar beberapa ratus meter hingga menuju air terjun utama. Di sana, buih-buih air begitu kencang berhamburan di sekitaran air terjun. Angin berhembus kuat akibat derasnya aliran air dari atas. Empat jam perjalanan yang begitu melelahkan fisik ini memang tidak sia-sia. Air Terjun Lumpo sejauh pengalaman saya merupakan air terjun terderas yang pernah saya temui. Apalagi dengan baru saja hujan turun di daerah ini, debit air yang mengalir semakin banyak dan air terjun ini semakin deras alirannya.
Alam benar-benar masih terjaga pada daerah sekitar air terjun ini. Bahkan pun sepertinya pada saat itu hanyalah kami berempat yang ada di situ. Air terjun yang dapat kami lihat hanyalah pada tingkat pertama, kalau melihat dari bagian atas bukit tadi, ada banyak tingkatan lagi di atasnya. Tingginya memang tidak terlalu tinggi dengan kelebaran sekitar belasan meter, tetapi airnya turun dengan begitu deras bertumpuk-tumpuk membentuk buih dan angin yang kuat. Di seberang kanan dan kiri aliran sungai di bawah air terjun masih berupa hutan dengan pepohonan yang rapat. Ketika menengok ke atas, pada semua arah dibatasi oleh penghalang dikepung oleh perbukitan. Bebatuan berserakan di mana-mana dengan ukuran yang beragam membentuk jeram sungai yang deras. Tempat ini benar-benar terpencil dari hiruk pikuk kehidupan pemukiman manusia. Terasa jauh sekali dari kesemuanya itu dan hanyalah terdengar suara alam dengan derasnya air terjun yang turun dan suara binatang-binatang. Anton, pengarah jalan kami, bahkan dengan mudahnya dapat menangkap ikan-ikan yang begitu banyak berkumpul pada sungai di bawah air terjun. Inilah keindahan yang tersembunyi pada kenyataannya. Alam yang begitu megah tersaji sejauh mata memandang membuat manusia seakan tak ada apa-apanya di hadapan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa seperti ini.
P1150821
air terjun lumpo, keindahan yang tersembunyi
Hanya sebentar saja waktu yang tersisa untuk dapat menikmati pemandangan yang baru kali ini saya dapati. Dalam tempo sekitar kurang dari satu jam, kami makan, sholat dengan dilatari bebatuan sebagai tempat bersujud, dan istirahat sejenak. Dokumentasi foto pun tidak banyak yang bisa dilakukan karena buih-buih air terjun yang mengaburkan lensa kamera. Hari sudah menjelang petang dan kami harus kembali secepatnya. Jalur yang dilewati masih jalur yang sama dengan cara berkebalikan, mendaki menanjak dari yang sebelumnya menurun, melewati jalur datar, dan kemudian menuruni jalur yang tadinya ditanjaki. Tubuh kali ini sudah dapat menyesuaikan dengan beban yang tadi dihadapi sebelum sampai di air terjun. Walaupun begitu, tetap saja rasa lelah menjadi deraan selama perjalanan dan sempat terjadi beberapa insiden kecil seperti tergelincir, terperosok, dan sengatan tawon hutan yang menyerang teman saya.
Dengan malam yang sudah tiba di tengah hutan menjadikan kecepatan berkurang dan lebih mementingkan kehati-hatian daripada tergesa-gesa cepat sampai di tujuan. Ya, inilah kali pertama saya merasakan bagaimana gelapnya hutan di saat malam. Beruntungnya pengarah jalan kami sudah berpengalaman dan hafal jalur kembali walau hanya menggunakan senter kecil sebagai penerang jalur. Hujan yang turun sebelumnya menjadikan jalur yang sudah licin menjadi lebih licin dan becek lagi. Energi saya sendiri sudah agak melemah sehingga untuk jalan agak sempoyongan membutuhkan tongkat penegak dan digandeng oleh pengarah jalan. Mereka juga selalu mengingatkan untuk hati-hati dan terus memandu pada jalur yang tepat hingga akhirnya kami sampai pada sungai daerah Batu Biduak yang menandakan bahwa titik kembali sudah dekat. Sesampainya di sungai ini, terasa begitu lega karena jalur yang lumayan ekstrem ini sudah terlewati, jalur selanjutnya hanyalah berupa jalan setapak mendatar selama beberapa ratus meter hingga kembali ke pemukiman terdekat.
Sekitar pukul 9 malamlah akhirnya kami berempat sampai di titik kembali. Sama seperti perjalanan pergi ke Air Terjun Lumpo, untuk perjalanan pulang kembali ke titik awal membutuhkan waktu yang sama, 4 jam dengan kondisi cuaca dan waktu memulai pendakian seperti ini. Di rumah salah satu penduduk lokal, kami beristirahat sebentar sembari membersihkan diri, terutama dari pacet-pacet yang menempel dan tanpa disadari selama perjalanan menghisap darah tubuh kami. Oleh penghuni rumah, kami sempat ditanyai tentang bagaimana cerita perjalanan kami dan apa saja yang sudah kami temui. Dengan pengalaman kami selama perjalanan mendaki hingga ke air terjun dan kembali lagi, banyak hal yang dapat diceritakan. Apalagi untuk teman saya, Pak Amin, yang memang pandai bercerita.
Bagi saya sendiri, sesampainya di titik kembali, membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa dan rasa syukur yang teramat sangat. Tantangan pendakian yang semula membuat saya cemas akhirnya dapat saya lewati juga. Pendakian ini menjadi pembelajaran bagi saya yang baru kali ini merasakannya sampai sejauh ini. Pendakian ini juga menjadi titik pembuktian bahwa sesulit apa pun rintangan yang dihadapi, jika dihadapi bersama dan diiringi dengan tekad tidak menyerah, maka tujuan akan tercapai dengan sendirinya. Selain itu juga, tujuan utama dari penjelajahan ini adalah kejutan yang melebihi dari harapan semula diperkirakan. Air Terjun Lumpo adalah fenomena alam yang luar biasa dan menjadikan diri ini terasa lebih dekat lagi dengan alam.
Air Terjun Lumpo adalah keindahan yang tersembunyi di tengah belantara hutan yang jauh dari pemukiman manusia. Keindahan ini wajar masih tampak begitu alami terbebas dari campur tangan manusia. Saya membayangkan jika daerah ini sudah terjangkau oleh semua orang dengan mudahnya, maka bisa jadi kealamian yang begitu indah ini semakin lama semakin memudar. Tidak semua orang peduli dengan alam dan apa-apa yang diperlukan untuk melestarikannya. Kalau aksesnya semakin terjangkau dan orang-orang yang tidak peduli berduyun-duyun datang dan merusak keindahan alam ini, pesona Air Terjun Lumpo tidaklah seasli sebagaimana semula. Walaupun pada satu sisi lain, untuk tempat yang seindah ini harusnya dibuat akses yang memadai agar pesona Pesisir Selatan yang satu ini dapat dikenal lebih luas oleh khalayak masyarakat untuk pariwisata.
Dalam benak saya, biarlah keindahan air terjun tetap tersembunyi dalam padatnya belantara yang masih alami ini. Biarkan alam yang mengendalikan bagaimana sistemnya berjalan dengan sendirinya tanpa perlu manusia yang mengganggu. Kalaupun ada yang ingin tahu dan penasaran melihat keindahannya tersembunyi ini seperti kami ini, alam sudah membentuk penghalangnya tersendiri agar tidak sembarang orang mau dan mampu melewatinya. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, sebenarnya perjalanan kami kali ini tidaklah hanya sekadar tentang tujuannya, yaitu air terjun. Perjalanan ini juga tentang proses yang menguji mental dan fisik seseorang lebih tertempa lagi. Ini adalah hal yang membuat saya lebih banyak belajar dan nantinya akan mencoba memahami meresapinya dalam nilai dan perilaku kehidupan.
P1150827
saya dan teman perjalanan yang super :), pak Amin
Perjalanan menuju Air Terjun Lumpo kali ini adalah perjalanan yang paling kompleks sejauh pengalaman saya selama ini menelusuri keindahan alam Pesisir Selatan. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan dan banyak sisi-sisi wawasan yang membuat saya berpikir lebih terbuka. Belum seberapa memang pendakian ini yang barulah sebatas bukit, tetapi inilah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Terima kasih untuk Pak Amin yang menjadi teman penyemangat dan penasehat selama perjalanan dan juga para pengarah jalan yang sudah sangat membantu lancarnya perjalanan kami ini.


Untuk selanjutnya, semoga akan ada lagi keindahan tersembunyi yang dapat saya temui di Pesisir Selatan yang memang menyimpan beragam pesona ini…

No comments:

Post a Comment